Kamis, 13 Juli 2017

Sumber Pertumbuhan Ekonomi (Analisa sisi Aggregate Demand dan Aggregate Supply )



BAB I
PENDAHULUAN


Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah ekonomi jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi yang pesat merupakan fenomena penting yang dialami dunia hanya semenjak dua abad belakang ini. Dalam periode tersebut dunia telah mengalami perubahan yang sangat nyata dibanding periode sebelumnya. Ditinjau dari sudut ekonomi, perkembangan ekonomi dunia yang berlaku menimbulkan dua efek yang sangat berpengaruh yaitu, kemakmuran atau taraf hidup masyarakat makin meningkat, dan diciptakannya kesempatan kerja yang baru bagi penduduk baru yang terus mengalami peningkatan jumlahnya.  

Analisis mengenai pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu aspek penting dalam teori makroekonomi. Analisis itu pada dasarnya memperhatikan tentang kegiatan ekonomi negara dalam jangka panjang. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang menentukan perrtumbuhan ekonomi dilihat dari segi analisis permintaan agregat (Aggregate Demand) dan penawaran agregat (Aggreate Supply).

Dalam analisis AD-AS istilah penawaran agregat mempunyai pengertian yang sedikit berbeda. Pertama, dalam analisis AD-AS penawaran agregat diartikan sebagai penawaran barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dalam suatu Negara. Berarti penawaran agregat sama dengan barang dan jasa yang ditawarkan (diproduksikan) perusahaan-perusahaan dalam perekonomian. Perbedaan lainnya, yang merupakan perbedaan yang lebih penting, bersumber dari ciri pokok konsep tersebut. Dalam analisis AD-AS ciri penawaran agregat dikaitkan dengan tingkat harga.

BAB II
PENJELASAN

A.   Pengertian Permintaan Agregat ( Aggregate Demand )

Permintaan Agregat (aggregate demand, AD) adalah Jumlah barang dan jasa-jasa akhir yang dihasilkan di dalam perekonomian yang diminta pada berbagai tingkat harga. Permintaan agregat dapat ditampilkan dengan menggunakan Kurva atau tabel yang menunjukkan berbagai jenis barang & jasa yang dibeli secara kolektif pada tingkat harga tertentu.

Sedangkan kurva permintaan agregat (aggregate demand curve) adalah kurva yang menjelaskan hubungan antara jumlah output agregat yang diminta dengan tingkat harga ketika semua variabel lain dianggap konstan. ada dua cara yang digunakan untuk menurunkan kurva permintaaan agregat. Pendekatan yang pertama dan yang paling sederhana adalah penekatan teori jumlah uang dimena permintaan agregat ditentukan semata-mata oleh jumlah uang. Sementara pedekatan yang kedua didasarkan pada pengujian perilaku  bagian-bagian komponen permintaan agregat seperti konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah  dan ekspor bersih. Pendekatan ini juga mempertimbangkan peran jumlah uang dalam menentukan permintaan agregat, tetapi tidak secara langsung, melainkan dengan cara mempertimbangkn bagaimana perubahan jumlah uang mempengaruhi komponen-komponen permintaan agregat.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan agregat di dalam suatu perekonomian adalah:
a.       Pendapatan disposable (Yd) atau pengeluaran konsumsi (C)
b.       Tingkat bunga (i)
c.       Kepercayaan dunia bisnis (business confidence) atau investasi (I)
d.       Jumlah uang beredar riil (real money supply atau Ms/P)
e.       Pengeluaran pemerintah (G)
f.        Pajak (T)
g.       Pendapatan luar negeri (Yf)
h.       Harga luar negeri (Pf)
i.         Nilai tukar riil (exchange rate atau ER)

Kurva permintaan agregat tersebut memiliki kemiringan (slope) negatif yang menunjukan bahwa antara jumlah output yang diminta dengan tingkat harga hubungannya adalah negatif atau berkorelasi negatif.
Faktor-faktor yang menyebabkan Kurva permintaan agregat ber-slope negatif adalah:
1.        Efek Kekayaan
Biaya yang digunakan oleh produsen tergantung pada kekayaan yang dimiliki. Keduanya memiliki satu hubungan yang positif. (Kekayaan mengacu pada pemegangan uang, saham, obligasi, rumah serta asset fisik yang lain. Kekayaan yang dimiliki dipengaruhi oleh tingkat harga)
2.        Dampak Harga Bunga
Efek harga bunga ditujukan karena perubahan tingkat haraga mempengaruhi harga bunga. Efek ini mempengaruhi produksi & investasi
3.         Efek Pembelian Asing (Ekspor & Impor)
Jumlah ekspor & impor dalam suatu ekonomi tergantung pada harga Domestic & asing

B.     Pergerakan(Penurunan) Kurva Permintaan Agregat












Untuk menentukan permintaan agregat, selain dengan melihat bagaimana uang memengaruhi jumlah permintaan agregat, kita juga dapat menurunkan  kurva permintaan agregat dengan melihat 4 komponen, yaitu :

1.      Pengeluaran konsumen ( customer expenditure )
Yaitu jumlah permintaan akan barang dan jasa konsumen.

2.      Pengeluaran investasi yang direncanakan ( planned investment spending )
Yaitu jumlah pengeluaran yang direncanakan oleh perusahaan atas mesin pabrik, dan barang modal lain yang bar ditambah pengeluaran yang direncanakan atas  rumah baru.

3.      Pengeluaran pemerintah ( goverment spending )
Yaitu pengeluaran  oleh semua jajaran pemerintah atas barag dan jasa .

4.      Ekspor bersih (net export )
Yaitu pengeluaran luar negeri bersih atas barang dan jasa domestik, sama dengan ekspor dikurangi impor.

C.   Analisis Pengaruh Perubahan Harga Terhadap Permintaan Agregat

Dalam hal ini kita akan menganalisis pengaruh perubahan-perubahan harga secara umum terhadap permintaan agregat dimana besarnya agregat disini ditunjukkan oeh besarnya pendapatan nasional (Y). Dengan demikian kurva permintaan agregat dapat digunakan untuk melihat hubungan antara tingkat harga dengan besarnya pendapatan nasional.

Adapun ciri-ciri dari kurva permintaan agregat adalah kurva menghadap ke bawah atau menghadap ke pusat sumbu, hal itu berarti bahwa seandainya hal-hal lainnya tetap sama, sebuah penurunan keseluruhan tingkat harga dalam perekonomian yang bersangkutan cenderung untuk meningkatkan kuantitas barang dan jasa yang diminta.

Ada tiga alasan mengapa suatu penurunan tingkat harga meningkatkan kuantitas barang dan jasa yang di minta:
(1) Konsumen merasa lebih kaya, yang mendorong mereka menaikkan permintaan untuk barang-barang konsumsi; (2) jatuhnya suku bunga, yang mendorong naiknya permintaan untuk barang-barang investasi; (3) Depresiasi nilai tukar yang selanjutnya mendorong naiknya permintaan ekspor neto, karena ketiga alasan itulah kurva permintaan agregat menghadap ke pusat sumbu. Secara khusus kurva permintaan agregat yang menghadap ke bawah mengasumsikan bahwa penawaran uang adalah tetap.

Dalam ekonomi konvensional, ada dua pendapat mengenai jalur perubahan harga terhadap perekonomian. Pendapat pertama di kemukaan oleh Keynes.

Menurut Keynes, apabila terjadi perubahan harga, maka jumlah uang beredar riil (m/p) akan berubah, akibat lebih lanjut adalah terjadi perubahan pada tingkat bunga (i), apabila tingkat bunga berubah maka investasi (I) juga berubah. Perubahan investasi akan mengakibatkan perubahan pendapatan nasional (Y). Mekanisme ini disebut efek Keynes atau juga sering disebut sebagai efek bunga-Investasi.

Dalam keadaan deflasi, yaitu dimana tingkat harga mengalami penurunan, nilai riil jumlah uang yang beredar akan mengalami peningkatan. Dengan jumlah uang yang nilai nominalnya sama dalam arti tidak berubah, menurunnya tingkat harga dengan lima puluh persen, misalnya mengakibatkan meningkatnya real money supply menjadi dua kali jumlah semula. Sebaliknya, sebagai akibat adanya inflasi dengan nominal money supply yang sama dihasilkan real money supply yang lebih sedikit dari pada sebelumnya.

Pendapat kedua dikemukakan oleh A.C. Pigou, menurutnya apabila terjadi perubahan harga dalam suatu perekonomian, maka masyarakat merasa besarnya saldo kas riil mereka berubah. Untuk mengembalikan keadaan kepada keadaan semula, mereka berusaha mempengaruhi besarnya pengeluaran konsumsi (C) mereka. Perubahan tingkat konsumsi mengakibatkan  perubahan tingkat pendapatan nasional (Y).


D.   Penawaran Agregat (Aggregate Supply)















Penawaran Agregat (aggregate supply) adalah jumlah barang dan jasa akhir perekonomian, yang diminta pada berbagai tingkat harga yang berbeda.

Kurva penawaran agregat (AS) adalah suatu kurva yang menggambarkan pendapatan nasional (nilai barang dan jasa) yang akan di produksikan sector perusahaan pada berbagai tingkat harga. Kurva AS menerangkan tentang pendapatan nasional yang akan diwujudkan perusahaan-perusahaan pada berbagai tingkat harga.  Bentuk kurva penawaran agregat yaitu menaik dengan makin tingginya harga. Menurut model ini, tingkat harga dan kuantitas output bergerak sedemikian rupa sehingga menyesuaikan permintaan agregat dan penawaran agregat dan membawa keduanya pada kondisi ekuilibrium atau keseimbangan. 

Penawaran agregat di dalam suatu perekonomian dipengaruhi oleh beberapa factor sebagai berikut :
1.      Besarnya angkatan kerja
2.      Besarnya stok capital
3.      Keadaan atau tingkat teknologi
4.      Tingkat pengangguran alamiah
5.      Harga factor-faktor produksi

Dalam penawaran agregat penting untuk membedakan antara penawaran agregat jangka pendek dan jangka panjang. Penawaran agregat jangka pendek merupakan jumlah seluruh barang akhir dan jasa-jasa di dalam perekonomian yang dijual atau ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan pada berbagai tingkat harga.
Sedangkang penawaran agregat jangka panjang adalah lebih menunjuk kepada jumlah output riil yang ditawarkan ketika upah dan harga-harga telah di sesuaikan sedemikian rupa sehingga masing-masing perusahaan memproduksi output yang memaksimumkan keuntungan dan perekonomian berada pada tingkat kesempatan kerja penuh.

Dalam ekonomi Islam, kurva penawaran agregat menggambarkan volume produk nasional yang akan diproduksi pada tingkat harga yang berbeda-beda. Oleh karena dalam ekonomi Islam tidak ada monopoli dalam setiap pasar,maka uang atau upah nominal yang harus dibayarkan kepada pekrja adalah benar-benar sempurna fleksibel dapat bergerak ke atas dan kebawah. Fungsi produksi agregat dapat dinyatakan sebagai berikut :
Y = Y (N)

Dalam ekonomi konvensional Setiap kenaikan permintaan agregat untuk barang dan jasa menunjukkan kenaikan penerimaan perusahaan-perusahaan yang hasilnya dibeli oleh masyarakat. Perubahan permintaan agregat akan mengakibatkan perusahaan-perusahaan bereaksi, sehingga akan terjadi perubahan penggunaan factor-faktor produksi, perubahan tingkat harga dan sebagainya, untuk selanjutnya perusahaan-perusahaan lain pemasok input bagi perusahaan-perusahaan yang mengalami perubahan permintaan akan memberikan reaksi dengan menyesuaikan permintaan akan input maupun factor-faktor produksi lainnya.

Dalam kurva penawaran agregat jangka panjang, kurva berbentuk vertical karena dalam jangka panjang, penawaran barang dan jasa dari suatu perekonomian tergantung pada penawaran modal dan tenaga kerja dan teknologi produksi yang tersedia yang digunakan untuk mengubah modal dan tenaga kerja itu menjadi barang dan jasa. Karena tingkat harga tidak mempengaruhi penentu-penentu jangka panjang dari produk domestic bruto riil.
Dan kurva penawaran agregat jangka panjang dapat bergeser, dikarenakan tingkat pengangguran alamiah yang berubah, tingkat output alamiah dari perekonomian yang bersangkutan juga berubah.

Sebagai contoh, jika Kongres Amerika Serikat akan menaikkan upah minimum, tingkat pengangguran alamiahakan meningkat dan perekonomia yang bersangkutan akan memproduksi kuantitas barang dan jasa yang lebih sedikit.akibatnya, kurva penawaran agregat jangka panjang akan bergeser ke sebelah kiri. Kebalikannya, jika ada reformasi system asuransi pengangguran yang ditujukan untuk mendorong para pekerja yang sedang menganggur untuk mencari pekerjaan baru, tingkat alami pengangguran akan jatuh dan kurva penawaran agregat akan bergeser ke kanan. Kurva penawaran agregat juga dapat melengkung ke atas pada jangka pendek. Perbedaan mendasar antara kondisi jangka panjang dengan jangka pendek adalah perilaku dari penawaran agregat 

Berikut Kurva Penawaran Jangka Panjang












Keterangan : Jumlah output yang ditawarkan pada tingkat harga tertentu merupakan tingkat ouput alamiah (natural ratelevel of output) dalam jangka panjang, sehingga kurva penawaran agregat jangka panjang LRAS meupakan garis vertikal pada Yn.

Sedangkan,Pergeseran Kurva Penawaran Agregat Jangka Pendek yaitu :
Jika biaya produksi suatu outpu meningkat, keuntungan atas suatu unit output menurun, dan jumlah output yang ditawarkan pada setiap tingkat harga menurun. 
Kesimpulan : Kurva penawaran agregat jangka pendek bergeser ke kiri ketika biaya produksi meningkat dan ke kanan ketika biaya menurun.

Faktor-faktor yang menyebabkan kurva penawaran jangka pendek bergeser adalah factor yang mempengaruhi biaya produksi ;
1)      Tingkat kekakuan pasar tenaga kerja, 
2)      Perkiraan inflasi, 
3)      Upaya pekerja untuk mendorong upah riil mereka, dan 
4)      Perubahan biaya produksi yang tidak berkaitan dengan upah (seperti  biaya energi). 

Tiga faktor pertama menggeser kurva penawaran agregat jangka pendek dengan mempengaruhi biaya upah, faktor keempat mempengaruhi biaya-biaya produksi lain.

1.      Tingkat kekakuan pasar tenaga kerja.
Kekakuan upah riil mengurangi tingkat penemuan pekerjaan dan mempertinggi pengangguran.Jika perekonomian sedang mengalami kenaikan dan pasar tenaga kerja bersifat kaku (Y >Yn ),pemberi kerja mungkin mempunyai kesulitan untuk mempekerjakan tenaga kerja yang memenuhi mutu dan bahkan mungkin mempunyai kesulitan untuk memelihara tenaga kerjanya sekarang. Karena permintaan akan tenaga kerja sekarang melebihi penawaran di pasar tenaga kerja, maka pemberi kerja (perusahaan) akan menaikkakn upah untuk menarik pekerja yang dibutuhkan dan biaya produksi akan meningkat. Biaya produksi yang semakin tinggi akan mengurangi keuntungan per unit output pada setiap tingkat harga, dan kurva penawaran agregat jangka pendek bergeser ke kiri.

Sebaliknya, jika perekonomian mengalami penurunan dan pasar tenaga kerja longgar (Y< Yn), maka dalam pasar tenaga kerja yang longgar dimana jumlah tenaga kerja yang diminta lebih kecil daripada jumlah yang ditawarkan , maka upah dan biaya produksi akan menurun, jadi keuntungan per unit output akan meningkat dan kurva penawaran agregat jangka pendek akan bergeser ke kanan.

Kurva Penawaran Jangka Pendek



2.      Perkiraan Tingkat Harga
Kenaikan perkiraan tingkat harga mengakibatkan upah lebih tinggi, yang selanjutnya menaikkan biaya produksi, menurunkan keuntungan per unit output pada setiap tingkat harga, dan menggeser kurva penawaran ke kiri.
Maka, kenaikan perkiraan tingkat harga menyebabkan kurva penawaran bergeser ke kiri, semakin besar perkiraan kenaikan tingkat harga (yaitu, semakin tinggi perkiraan inflasi), maka semakin besar pergeserannya.

3.      Dorongan Upah
Misalkan bahwa para pekerja memutuskan untuk mogok kerja untuk mendapatkan upah riil yang lebih tinngi dan mereka berhasil mendapatkan upah riil yng lebih tinggi. Maka dorongan upah oleh para pekerja akan menyebabkan kurva penawaran agregat bergeser ke kiri.

4.      Perubahan Biaya Produksi yang Tidak Berhubungan dengan Upah.
Perubahan teknologi dan penawaran bahan-bahan mentah disebut guncangan penawaran (supply shocks) juga dapat menggeser kurva penawaran agregat. Guncangan penawaran  negatif, seperti pengurangan ketersedian bahan mentah, yang harganya meningkat, akan meningkatkan biaya produksi dan menggeser kurva penawaran agregat ke kiri dan sebaliknya.
Perkembangan teknologi baru akan menurunkan biaya produksi, dengan menaikkan produktivitas pekerja hal ini juga dapat disebut dengan guncangan penawaran positif, yang dapat menggeser kurva penawaran agregat ke kanan.

PENYEBAB PERUBAHAN KESEIMBANGAN

1)      Perubahan keseimbangan yang disebabkan oleh guncangan permintaan agregat.

Pada Kurva menunjukkan dampak pergeseran ke kanan dalam kurva permitaan agregat karena adanya guncangan permintaan positif : kenaikan jumlah uang beredar (M ), kenaikanengeluran pemerintah (G), dan kenaikan ekspor bersih (NX), penurunan pajak (T ), atau kenaikan keinginan konsumen dan perusahaan untuk brbelanja karena mereka lebih optimis (C  , I  ).

kurva tersebut menunjukkan perekonomian pada awalnya berada pada keseimbangan jangka panjang di titik 1, dimana kurva permintaan agregat awal AD1 berpotongan degan kurva penawaran jangka pendek AS1, perekonomian bergerak ke titik 1 dan output maupun harga meningkat. Tetapi perekonomian tidak akan tetap berada pada titik 1 dala jangka panjang, karena output pada Y1 berada ada tingkat alamiah. Upah akan meningkat, menaikkan biaya produksi pada semula tingkat harga, dan kurva penaaran agregat jangka pendek akan bergeser ke kiri ke AS2, dimana perekonomia akan tetap berada. Dengan demikian, perekonomian (keseimbangan) menggeser kurva permintaan jangka panjang (LRAS) pada Yn.

Meskipun dampak awal jangka pendek dari pergeseran ke kanan kurva permintaan agregat adalah kenaikan tingkat harga da utput, dampak akhir jangka panjang hanya berupa kenaikan tingkat harga.Pergeseran kurva permintaan agregat dari ke , menggerakkan perekonomian dari titik 1 ke titik 1'. Karena  >Yn, kurva penawaran agregat jangka pendek mulai bergeser ke kiri, secara perlahan mencapai , dimana output kembali ke Yn dan tingkat harga meningkat menjadi .



2)      Perubahan Keseimbangan yang Disebabkan oleh Guncangan Penawaran Agregat

Seandainya perekonomian pada awalnya berada pada tingkat output alamiah pada titik 1 ketika kurva penawaran agregat jangka pendek bergeser dari  ke  pada kurva  karena guncangan penawaran negatif (kenaikan harga energi yang tajam, misalnya). Perekonomian akan bergerak dari titik 1 ke titik 2, dimana tingkt harga meningkat tetapi output agregat menurun. Keadaan dari harg ayang menngkt, tetapi utput agregat menurun, sebagaimana digambarkan pada figur 7 disebut sebagai stagflasi.
Meskipun pergeseran ke kiri dalam kurva penawaran agregat jangka pendek pada awalnya menaikkan tingkat harga dan menurunkan output, dampak akhir adalah bahwa tingkat harga dan output tidak berubah.

Kurva Respons Output dan Tingkat Harga terhadap Kurva Penawaran Agregat Jangka Pendek



BAB III
PENUTUP

Keseimbangan pendapatan nasional (yang dalam analisis AD-AS dinamakan juga sebagai keseimbangan makroekonomi ), dicapai apabila kurva AD berpotongan dengan kurva AS. Keseimbangan ini akan menentukan tingkat harga yang berlaku dalam perekonomian dan pendapatan nasional riil yang akan diwujudkan. Perpotongan kurva AD-AS akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Secara analisis, perubahan tersebut disebabkan oleh tiga faktor, yaitu: perubahan AD saja, perubahan AS saja, dan perubahan serentak atau secara beruntun dalam AD dan AS .

Perubahan-perubahan dalam komponen pengeluaran agregat yaitu C,I,G,X, dan M akan menggeser kurva AD. Kurva AD akan bergeser ke kanan apabila C,I,G, dan X bertambah, dan akan bergeser ke kiri apabila M bertambah, dan kenaikan terhadap S & T.

Kurva AS akan bergeser ke kiri (atau ke atas) apabila:
  •                  Harga bahan mentah yang diimpor meningkat
  •                  Nilai mata uang domestik merosot
  •                  Pajak impor dan pajak lain bertambah
  •                  Upah kerja & biaya lainnya seperti listrik meningkat


Sebaliknya kurva AS dapat bergeser ke kanan apabila : kemajuan teknologi berlaku, pajak pemerintah diturunkan, infrastruktur bertambah baik, dan administrasi pemerintah lebih efisien dan menggalakan kegiatan swasta.


Sumber:



Jumat, 21 April 2017

Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun 2017

Bagaimana menurut anda mengenai target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah sebesar 5,1% ?

Pemerintah mengasumsikan pertumbuhan ekonomi mencapai level 5,3 persen pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017. Presiden Joko Widodo menjelaskan dengan mempertimbangkan seluruh dinamika yang ada dan tantangan ekonomi yang dihadapi, pertumbuhan ekonomi di tahun 2017 akan mencapai 5,3 persen, apakah target tersebut bisa tercapai?

Menurut pemikiran dan pendapat yang dapat saya ambil adalah, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar rata-rata 5-5,7% dapat tercapai pada tahun 2017 ini. Hal ini bukan hanya pemikiran pribadi semata, akan tetapi diambil dari beberapa informasi dan faktor-faktor acuan terwujudnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

A.  Berikut pendapat yang dikemukakan oleh beberapa pihak mengenai keputusan Pemerintah dalam  pertumbuhan ekonomi Indonesia :

1.   Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017 dapat mencapai 5,3 persen.
Angka pertumbuhan tersebut tercermin dari perbaikan harga komoditas di pasar global dan juga proyeksi lembaga-lembaga perekonomian dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,melihat faktor global dan membaiknya harga komoditas, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi positif dari IMF, World Bank, kebijakan insentif Kredit Usaha Rakyat (KUR), pembangunan infrastruktur, kami yakin ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,3 persen. 
2.  Menurut Corporate Secretary PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk. atau BNI,Ryan Kiryanto, target pertumbuhan ekonomi tersebut paling realistis dan ideal saat ini.
"Asalkan dengan catatan inflasi rendah,target pertumbuhan pemerintah akan tercapai. Pasalnya selain inflasi yang rendah, beberapa indikasi perbaikan (Pembangun infrastruktur besar-besaran, politik relatif stabil, sektor konsumen akan kembali reborn dan performa kemudahan bisnis yang bagus) juga mulai tampak di akhir tahun ini” 
3.      DPR yakin target pertumbuhan ekonomi 2017 bakal tercapai
Fungsi pemerintah harus mampu memberikan harapan dan optimisme. Optimisme pemerintah itu menjadi tolak ukur tahapan pembangunan. Dengan demikian, respon pasar itu yang menjadi ukuran seberapa kredibel pencapaian kita. angka yang diusulkan belum mempertimbangkan termasuk target terpenuhinya Tax Amnesty. Kalau tax amnesty tercapai di 2016, maka akan ada tambahan likuiditas tambahan masuk. Bagi orang yang masih ingin ikut tax amnesty, akan menjadi pendorong dari nilai tukar rupiah.

B.      Faktor dalam mempertimbangkan realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia :
  1. Kinerja ekspor nasional yang bergerak menuju tren positif. Nilai produk yang diekspor surplus bila dibanding dengan nilai impor.
  2. Meningginya permintaan ekspor, ini sangat mempengaruhi daya saing sebuah negara. Bila permintaan ekspor dari negara luar tinggi, maka akan berdampak langsung pada laju pertumbuhan ekonomi.
  3. Semakin baiknya harga komoditas ekspor. Hal ini sangat dinantikan oleh para eksportir. Karena di tahun-tahun sebelumnya, fluktuasi harga tidak menentu. Akibat persaingan harga, maka perdagangan anjlok. Bahkan berpengaruh langsung pada permintaan komoditas ekspor.
  4. Membaiknya ekonomi China dan pengaruh dari suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Ini satu-satunya pengaruh dari luar negeri, tetapi menjadi faktor penentu pertumbuhan ekonomi semakin laju ke tren positif atau malah menjadi bumerang bagi perekonomian kita kedepannya.
  5.  Peran Pajak Dalam Mencapai Target Pertumbuhan Ekonomi

   Salah satu alat kebijakan fiskal yang dapat digunakan oleh Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah instrumen pajak. Caranya yaitu dengan menaikkan besaran Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) sehingga jumlah disposable income yang akan digunakan untuk konsumsi semakin besar. Besarnya PTKP sejak tahun pajak 2016 naik sebesar 50% dibandingkan dengan PTKP di tahun 2015. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.010/2016. Penyesuaian dan peningkatan kembali PTKP di tahun 2017 dapat sejalan dengan tingkat inflasi dan standar hidup masyarakat Indonesia. Peningkatan dan penyesuaian besaran PTKP akan memperkuat daya beli masyarakat dan mendongkrak aktivitas ekonomi di Indonesia.


Suksesnya program pemerintah yaitu tax amnesty dan dana repatriasi. Walaupun diawal program tersebut timbul ketidak percayaan (trust) wajib pajak. Namun saat mendekati akhir periode pertama, program ini mendapat sambutan yang hangat dari para wajib pajak. Pemerintah menerima uang tebusan mencapai Rp 97,2 triliun. Dari jumlah tersebut, deklarasi harta mencapai Rp 4.500 triliun dan repatriasi Rp 137 triliun.

   6. Peningkatan Investasi

Untuk meningkatkan investasi diperlukan kebijakan Pemerintah yang business friendly misalnya dengan cara menurunkan tarif PPh Badan yang semula dikenakan tarif sebesar 25% diusulkan diubah menjadi sekitar 20% s.d. 17% dimana besaran tarif ini sama dengan tarif yang telah diterapkan oleh Singapura sebesar 17% dan Thailand sebesar 20%. Penurunan tarif PPh Badan ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing investasi khususnya dengan negara-negara ASEAN dan juga bertujuan agar tidak terjadi capital outflow termasuk atas dana repatriasi amnesti pajak. Selain itu, untuk menarik penanaman modal tetap di Indonesia, Pemerintah perlu memberikan fasilitas pajak untuk sektor-sektor yang mempunyai dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, mempunyai orientasi ekspor, menyerap tenaga kerja, dan melakukan transfer teknologi baik secara horizontal maupun vertikal.

Dengan adanya penanaman modal tetap yang dilakukan oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) akan menciptakan lapangan kerja baru sehingga akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan  mengurangi tingkat pengangguran terbuka juga akan menambah penerimaan negara dari PPh Pasal 21. Sebagaimana diketahui bahwa dalam APBN 2017 tingkat pengangguran terbuka diharapkan turun dari 5,7% (2016) menjadi berada pada kisaran 5,3% s.d. 5,6% di tahun 2017.


C.   Faktor pengaruh terhambatnya realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia :
1.   Inflasi yang diprediksi akan meningkat.
2. Penyerapan anggaran pendapatan belanja negara (APBN)  dan anggaran pendapatan      belanja daerah  (APBD) yang masih rendah.
3.  Maraknya dana yang keluar ke Luar negeri, Langkah yang harus diambil adalah dibebankan melalui pajak.
4. Keputusan penundaan penyaluran dana alokasi umum (DAU) dalam APBN Perubahan 2016. 
  Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 125/PMK.07/2016 disebutkan penundaan DAU untuk 169 daerah mencapai Rp 19,4 triliun pada 2016,penundaan tersebut dapat menjadi beban dalam tahun anggaran berikutnya, sehingga RAPBN 2017 tidak kredibel.
5. Pemerintah didorong untuk melakukan penghematan belanja negara secara menyeluruh melalui skema membagi beban secara proporsional antara pemerintah pusat (kementerian/lembaga) dan pemerintah daerah. Pengaruhi kondisi ekonomi global. Kondisi ekonomi global tersebut, antara lain berupa ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) serta kondisi geopolitikal di sejumlah negara. Seperti kebijakan yang dilakukan Trump (Presiden Amerika Serikat), kemudian kondisi geopolitikal dan keamanan di beberapa tempat.


Kesimpulan :

Untuk mencapai target pertumbuhan ini,  Presiden Jokowi meminta kepada seluruh menteri Kabinet Kerja untuk melakukan penghematan sebesar-besarnya di seluruh kementerian dan lembaga. Dan juga mengoptimalkan peran penting Pajak dalam peningkatan konsumsi, belanja Negara, investasi, dan perdagangan internasional. Namun dalam mencapai tujuan tersebut, banyak faktor yang masih menjadi penghalang pertumbuhan ekonomi , maka dari itu kerja sama yang baik sangat diharapkan dari seluruh pihak (baik pemerintah/warga negara) di Indonesia.

Sumber :




New Product - My Pro D-1310